Countdown

07.38

Alkisah ketika waktu mendadak berjalan mundur, lagi cepat. Dia dapat melihat bagaimana jemari tangannya bertumbuh kerdil, menyusut tiap milimeternya mengikuti alur ritmik. Lalu kepalanya yang dibalut rambut sebatas bahu itu terpaksa disuguhi kembali dengan hair extention alami miliknya. Tenggorokannya kering, tubuhnya panas lantaran tulang-tulang dalam rangkanya menciut. Meskipun dikecupnya rasa derita, pandangan matanya semakin menjelas. Tak perlu lagi ia menyematkan lensa berbingkai di depan hidungnya. Tak perlu lagi ia memaksa fokus matanya menemukan kepastian dalam ketimpangan dunia nan suram. Dan ketika disangkanya hidupnya membaik, ia terbaring dalam ironi. Mulutnya tak mampu bersua pendapat. Hanya ringisan tangis, lalu "ba-bi-bu".

You Might Also Like

0 comments