Kasus #2 - Rindu
01.53Jadi, dari kasus pertama, dapat dikonklusikan bahwa Ubi rada adem ayem, sementara RR meledak-ledak. Sebenarnya, RR itu posesif. Karena, model dari sifat RR adalah kebanyakan dia. Sementara Ubi adalah setengah jiwa saya. Well, ya, seperti itulah.
Mari kita lanjut ke kasus yang kedua.
Kasus #2 - Rindu
Mereka lulus, mereka pergi bekerja, meninggalkan kekasih :'( Apa yang akan mereka lakukan bila rindu sudah semakin memuncak?
Ubiquitous Lukewarm PoV
Dia punya kantung mata yang tebal. Dan juga alis yang menekuk terus-menerus ketika panas itu mulai meradang. Musim panas, 1989, namun dia masih saja berkutat di balik meja itu. Dengan setumpuk laporan yang tak kunjung menipis, juga beberapa surat keputusan ke luar kota yang belum ia gubris lantaran moodnya sedang tidak dalam kondisi prima.
Meja yang ia duduki sedari tadi berbunyi dentuman keras. Seekor Pixie yang ditemukannya di lantai dasar tad pagi entah mengapa malah ia masukkan ke dalam laci. Bunyinya amat mengganggu. Tapi dia masih saja terdiam di sana, meski para pegawai lainnya silih berganti mendatangi mejanya, berkata dengan majas sinisme, "Aku rasa kau perlu meja baru, Lukewarm." dan hanya direspon sebuah senyuman kambang serta kata, "Ah ya. Terima kasih. Besok aku akan membeli jaket baru."
Pikirannya tidak sedang ada di sana. Tidak dengan tumpukan perkamen mengenai regulasi hewan sihir. Tidak dengan selingan sisipan gosip yang beredar di seputaran kementrian. Tidak pula dengan aksi penyelamatan diri dari dalam lemari oleh Pixie liar yang naasnya tertangkap si mantan maniak alien. Tidak.
Pikirannya baru kembali memasuki susunan sel syaraf otaknya ketika jam dinding pergantian shift menunjukkan waktu istirahat makan siang. Dengan segera ia bangkit dari mejanya. Merapikan setelan kerjanya dan ber-apparate ke lokasi yang agak jauh. Latarnya setengah gurun, tanah berundak penuh pasir. Setengah lagi bebatuan. Sebuah tenda, peralatan menggali, dan beberapa lubang besar pada permukaan tanahnya. Dan ia tahu, ada dia di sana.
Suara manisnya memandu pemuda itu untuk berjalan mendekati suatu lubang, dan mendongak untuk melihat siapa yang ada di dalamnya.
"Berkeberatan bila aku menculikmu untuk makan siang, Nona Rifle?"
Dia punya kantung mata yang tebal. Dan juga alis yang menekuk terus-menerus ketika panas itu mulai meradang. Musim panas, 1989, namun dia masih saja berkutat di balik meja itu. Dengan setumpuk laporan yang tak kunjung menipis, juga beberapa surat keputusan ke luar kota yang belum ia gubris lantaran moodnya sedang tidak dalam kondisi prima.
Meja yang ia duduki sedari tadi berbunyi dentuman keras. Seekor Pixie yang ditemukannya di lantai dasar tad pagi entah mengapa malah ia masukkan ke dalam laci. Bunyinya amat mengganggu. Tapi dia masih saja terdiam di sana, meski para pegawai lainnya silih berganti mendatangi mejanya, berkata dengan majas sinisme, "Aku rasa kau perlu meja baru, Lukewarm." dan hanya direspon sebuah senyuman kambang serta kata, "Ah ya. Terima kasih. Besok aku akan membeli jaket baru."
Pikirannya tidak sedang ada di sana. Tidak dengan tumpukan perkamen mengenai regulasi hewan sihir. Tidak dengan selingan sisipan gosip yang beredar di seputaran kementrian. Tidak pula dengan aksi penyelamatan diri dari dalam lemari oleh Pixie liar yang naasnya tertangkap si mantan maniak alien. Tidak.
Pikirannya baru kembali memasuki susunan sel syaraf otaknya ketika jam dinding pergantian shift menunjukkan waktu istirahat makan siang. Dengan segera ia bangkit dari mejanya. Merapikan setelan kerjanya dan ber-apparate ke lokasi yang agak jauh. Latarnya setengah gurun, tanah berundak penuh pasir. Setengah lagi bebatuan. Sebuah tenda, peralatan menggali, dan beberapa lubang besar pada permukaan tanahnya. Dan ia tahu, ada dia di sana.
Suara manisnya memandu pemuda itu untuk berjalan mendekati suatu lubang, dan mendongak untuk melihat siapa yang ada di dalamnya.
"Berkeberatan bila aku menculikmu untuk makan siang, Nona Rifle?"
Reid Rendall PoV
Sebenarnya liontin itu ada dua. Kembar. Hanya mungkin, yang diketahui oleh Phitton-nya hanya sebuah. Satu yang dihadiahkannya ketika nona bermarga Whitton itu berulang tahun. Yang harus dibisiki kata kunci berupa "Aku cinta Reid Rendall yang keren dan seksi" sebelum foto narsis pemuda dalam liontin itu berubah menjadi suatu terawang atas apa yang sedang dilakukan olehnya. Tapi, benda satunya tidaklah demikian.
***
"Apa ini?"
"Mana? Coba kulihat."
"Reid..."
"...Mungkin berbahaya. Akan kusimpan di tempat yang aman."
"Mana? Coba kulihat."
"Reid..."
"...Mungkin berbahaya. Akan kusimpan di tempat yang aman."
Nyatanya, benda berbentuk aneh menyerupai bongkahan batuan granit itu tidak berbahaya sama sekali. Itu hanya alibi Reid, yang (ketika peristiwa itu berlangsung pada suatu hari standar di tahun keenam mereka) sengaja mentransfigurasi bentuk liontinnya sehingga Phitton-nya tidak akan memberi kata kunci seperti "Lucia Whitton lebih seksi daripada Reid Rendall" atau "Reid Rendall jelek kuadrat" atau "Jangan memanggilku Phitton, karena aku bukan ular". Juga yang lainnya. Meminimalisir kecurigaan yang akan timbul, buru-buru pemuda itu memasukkannya ke dalam kantung jubahnya, lalu bergerak menuju aula besar untuk menyantap makan malam bersama kekasihnya.
Malam yang indah, malam tanpa kesendirian. Tidak seperti saat ini, di sana, di negara berbeda logat itu, di dalam satu ruang apartemen desain minimalis, pada permukaan kasur teramat empuk itu, pemuda Rendall berulang kali mengganti posisi tidurnya. Setelah terlentang, miring, telungkup, tak jua ia mendapatkan rasa kantuknya. Matanya hanya mengerjap-erjap, sambil sesekali melirik jarum jam dinding muggle yang terpampang tepat di hadapannya. Sudah pukul satu lebih, dini hari, dia masih saja terjaga. Berikut hatinya yang menemaninya terjaga.
Rasanya, sepi. Sepi kerontang.
Entah mengapa, Reid lantas tergugah untuk meraih liontin miliknya yang selalu ia letakkan di atas meja kecil dekat ranjangnya. Membuka penutup berbentuk hati itu. Menatap lekat foto gadisnya yang sedang cemberut manyun, senyumnya jadi mengembang dengan sendirinya. Disusul tawa kecil, dan bisikan kata kunci, "Apa ini?" untuk membuka segel sang pengintip.
Kemarin malam waktu sekian, dia melihat Lucia sudah meringkuk di dalam selimut hangatnya. Sudah tertidur pulas. Begitu manis, meski beberapa surai rambutnya terurai acak-acakan.
Tadi pagi, dia melihat Lucia sedang buru-buru menggigit roti selai blueberry-nya. Saking tergesa, gadisnya bahkan tak menyadari bahwa ada bekas selai di pipinya. Reid ingin menyeka, namun mustahil adanya.
Tadi siang, ketika Reid istirahat selepas syutingnya, ia mengintip kekasihnya dari liontin. Melihat guratan senyum di wajah Lucia tatkala sedang mengajari seorang anak bermain piano. Ah, dia rindu senyuman itu.
Pun tadi sore, dia melihat kekasihnya tengah terbengong di suatu sudut etalase. Entah apa yang gadisnya tengah pikirkan, Reid tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah rindunya yang kian membuncah. Seragam dengan debar jantungnya yang menghentak-hentak tak jelas ketika terawangan itu perlahan muncul. Seperti kabut. Berwarna putih, blur, lalu mencerah.
Terang. Berwarna merah.
Aneh.
Biasanya yang akan muncul adalah gambar kekasihnya. Tapi yang satu ini, hanya ada layar merah serta tulisan:
PERVERT? CLICK HERE.
Beberapa detik ia tertegun, sebelum akhirnya menyadari sesuatu di balik tanda tersebut. Tanda sensor. Lucia-nya sedang mandi. Mandi di tengah malam. Dan dia dihadapkan dengan dua pilihan teramat sulit. Mengintip, atau tidak. Jujur saja, dia sangat penasaran. Terlebih dentuman jantungnya yang semakin memprovokasi. Reid menenggak ludahnya. Jari telunjuknya perlahan terangkat, semakin lama semakin mendekat ke arah permukaan liontin dengan layar merah itu. Cukup satu kali klik, dan dia akan melihat semuanya.
Semuanya.
Tsk. Ini dilema.
Ceklek.
Reid menghela napasnya dalam-dalam. Sudah terlambat untuk menyesal. Karena sekarang, menurut kata hatinya, bukan saatnya. Maka diletakkannya kembali liontin yang baru saja ia tutup itu pada pinggiran meja, sebelum menggeser posisinya lebih ke dalam. Anehnya, kali ini, mendadak ia merasa kantuk.
Semoga bisa bertemu Lucia Whitton dalam mimpi.
0 comments