Badai
20.41Mungkin kita hanya dua buah persamaan lingkaran yang kebetulan pernah bersinggungan.
Kau dari ujung barat, aku dari ujung timur. Dan waktu berotasi yang selalu sama. Persis. Pagi yang sama, udara sejuk yang sama, juga debaran di dalam baju kaos putih--pasangan dari rok berwarna biru tua yang cerah. Debaran yang aneh, tapi menyenangkan. Yang selalu membangkitkan semangat serta harapan-harapan konyol di pikiranku. Terbentuk begitu saja setiap harinya.
Mungkin kita hanya dua buah persamaan lingkaran yang kebetulan pernah bersinggungan.
Dan ketika tatapan kita beradu. Ketika mataku menyorot padamu, yang kupastikan menangkap bayangan diriku di retinamu, meski aku tidak datang dan menginterogasi hal itu. Dan kita selalu akan berlalu. Kau pergi ke timur, aku pergi ke barat. Kau menjejak lantai pualam, dan aku berlari di atas titian tangga porselen. Rutinitas setiap harinya.
Mungkin kita hanya dua buah persamaan lingkaran yang kebetulan pernah bersinggungan. Bukan dua buah persamaan lingkaran yang saling memotong pada dua titik. Yang bila itu terjadi, tentu kita tidak akan berakhir dengan seuntai kata sapaan pertama pada detik-detik perpisahan. Atau sorakan dari dua kelas, ah, hanya dua kelas itu saja.
Lalu semua pun berlalu. Seperti sebuah badai kecil lainnya. Tidak setangguh tornado, atau mengguncang layaknya gempa tsunami. Tidak. Hanya sebuah badai kecil biasa, yang sanggup mengenyahkan dua buah persamaan lingkaran yang kebetulan bersinggungan pada satu titik. Kemudian menggoreskan dua buah persamaan lingkaran itu pada catatannya yang imortal. Ah, sungguh badai yang teramat ramah.
0 comments