Nothing

06.05

Sebetulnya, ini adalah cerita pendek yang saya buat berdasarkan dua sudut pandang karakter saya di IH. Dipublikasikan di IH pada tanggal 23-24 April 2010. Yang pertama, Reid Rendall (R) ketika masih nerdus, dan yang kedua adalah Cassava Florrie Cadence (S),si gadis barbar yang plot ceritanya ketika itu adalah ingatannya telah dimodifikasi neneknya. RR sedang tiduran sebelum kelas dimulai, sementara Flo mencari pelampiasan. Sedikit vulgar memang. Makanya, tidak usahlah dibaca =))


==================================================


Halaman seratus tiga puluh delapan. How to teach your dragon.

Sret..Sret..

Dibaliknya lembaran buku bersampul tebal itu, menyapa deretan huruf-huruf tanpa adanya ilustrasi sedikit pun. Hanya tulisan. Tak timbul seperti Braille. Bola mata Reid bergulir dari kanan ke kiri; kepalanya statis menghadap bacaannya. Sesekali dihembuskannya napas panjang, lalu kembali membaca. Di saat yang lain bocah laki-laki itu mendecak, tanpa harus kehilangan perhatian pada topik yang dicernanya. Tentang naga, makhluk sihir dengan komunitas yang tergolong langka.

Menarik.

Kau takkan bisa menghitung seberapa lama ia membaca sebelum melihat perubahan posisi cahaya matahari. Ia tiba di tempat itu ketika matahari masih merangkak malu-malu di ufuk timur. Dan kini matahari telah berada empat puluh lima derajat dari garis bumi. Reid menoleh sekilas dari balik kacamatanya. Menangkap sinar yang lumayan menyilaukan matanya. Bocah itu menghela napas. Menutup bukunya, menurunkannya hingga atas dadanya. Kepalanya tetap tegak menatap hamparan langit biru. Ada gula kapas yang berarak di dekatnya, namun harus dihantam angin dalam kecepatan sekian knot. Diangkatnya satu tangan, menumpu kepalanya. Tubuhnya masih dalam posisi terlentang, menyapu barisan rerumputan yang dipenuhi dengan embun pagi hari.

Ia terdiam. Membiarkan angin sepoi membelai sulur-sulur rambut cokelatnya. Dilepasnya lensa pembantu penglihatan pada wajahnya,meletakkannya dengan hati-hati pada rumput di sebelahnya. Kini semua menjadi buram. Kecuali langit. Birunya masih tetap sama seperti tadi. Tak berubah seperti drama dunia. Drama hidupnya. Jemu; Reid pun menutup katup matanya. Membiarkan dirinya terlena dalam kegelapan untuk sesaat. Lima belas menit saja, mungkin. Biarkan ia terlelap sebentar, sebelum memulai kelasnya.

==================================================


Ucapkan selamat datang pada Yang Mulia Florrie atas kesediaannya kembali ke Hogwarts. Jangan tanya kelas berapa ia sekarang. Flo bisa mengamuk tak karuan. Ia jadi lebih sensitif. Lebih emosional. Satu tahun sudah dilaluinya di desa Pleasantview, berkutat dengan les manner brengsek yang diberikan oleh neneknya. Nenek dari ibunya yang ternyata cerewet. Persis seperti penyihir jahat dalam cerita dongeng.

Cuih.

Flo menjambak rambutnya, kakinya menapak rerumputan dengan tekanan yang keras. Inginnya menimbulkan suara menggema, tapi dia bukan raksasa. Ya ya ya. Salahkan gen manusia yang ada dalam tubuhnya. Salahkan mengapa ayahnya bukan kaum raksasa seperti Hagrid. Flo tiba-tiba terdiam. Pandangannya menerawang. Sepintas ingatan kabur dengan segera dari kepalanya. Tapi Flo tidak mau melepaskannya. Ia harus mengingat siapa ayahnya.

Ayah?

Siapa?

Flo menggeram. Dijambaknya kepala dengan rambut tak beraturan itu, mencoba mengumpulkan kembali ingatannya yang kacau. Tapi tidak. Flo tidak sekuat itu untuk mengingat kenangan yang terhapus dari hidupnya. Jangankan nama, wajah lelaki itu tak kunjung tampak di pikirannya. Flo kesal. Alisnya mengkerut. Bibirnya bergetar.

Berteriak.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA....!!!"

Puas?

Tidak. Flo masih kesal. Ia berlari dengan kecepatan tinggi, membiarkan tungkainya kesakitan karena dipaksa melakukan hal yang berlebihan. Gadis itu tidak mau tahu. ia tidak peduli jika harus mati saat ini. Dia... Gila. Flo melempar tubuhnya ke rerumputan, kedua lututnya bergesekan, membentur bumi dengan keras. Ada rasa perih yang merembes, dan Flo tahu kalau lututnya pasti terluka. Flo menunduk, rambut merahnya terjuntai turun. Kedua tangannya meremas erat rumput. Kesal.

Lalu ia menoleh ke satu arah. Ada seorang anak laki-laki tertidur dengan bukunya. Cuih. Tipikal ravenclaw yang bisa menikah dengan buku. Menyebalkan. Flo bangkit, semerta-merta ia meludahi telapak tangannya. Mengusap-usap kedua belah telapak tangannya yang kotor dengan air liurnya, sembari berjalan menuju si anak laki-laki. Flo berjongkok saat berada tepat di sebelah si bocah. Dengan ringannya ditempelkannya tangan itu pada pipi si anak Ravenclaw.


==================================================


Gelap.

Terlelap.

Reid kini sedang berada di lapangan luas, dengan tanah tandus di sekelilingnya. Debu-debu beterbangan, angin meniup tengkuknya, menciptakan suasana penuh ketegangan bagi bocah dua belas tahun ini. Ia meremas jarinya; ludah terteguk. Sorot pandangannya tertuju pada satu sudut di mana sosok seorang laki-laki dewasa menatap balik ke arahnya. Pemuda itu tertawa, seakan mencemooh Reid. Si bocah berkacamata semakin memanas. Entah bagaimana ceritanya, ia sudah mendapati dirinya memegang pisau yang tajam. Reid berjalan pelan ke arah pemuda itu.

"Hahaha! Kau mau menusukku, Reid? Menusuk kakakmu?"

"S-shut up!"

Reid berlari. Menghunuskan besi tajam itu ke arah Ralph. Jantungnya berdetak keras.

"Bagaimana kalau begini?"

Pemuda yang dicurigainya tidak sedarah dengannya itu tidak menghindar. Dengan sekali gerakan, ia menyabotase tindakan berbahaya dari Reid. Memegang lengan Reid, memuntir, menekuknya keras ke belakang sampai Reid mengerang kesakitan. Pemuda berhidung bengkok itu terbahak-bahak, dirampasnya belati itu dari tangan Reid. Menempelkan sisi pisau itu di pipi Reid. Reid gemetar. Rasanya dingin...

Menakutkan.

Dingin itu masih menjalar, namun kali ini terasa lebih berbeda. Lebih lengket. Lebih bau. Lebih... nyata. Dahi Reid sontak mengkerut, matanya membuka perlahan-lahan. Ia melihat sosok bayangan di dekatnya, tapi tak bisa mengidentifikasi lekuk wajah dari orang itu. Orang yang ia temukan sedang menempelkan tangan pada pipinya--

--Ah? Apa yang dilakukan orang itu?

Reid tersentak kaget. Ia berusaha bangkit. Kedua tangannya kini telah menyentuh permukaan rumput, hendak menopang tubuhnya yang dipaksanya terangkat dengan cepat. "A-apa yang kau lakukan padaku?"

==================================================



Kalau putri tidur dibangunkan dengan ciuman kemesraan, maka pangeran tidur harus dibangunkan dengan cara seperti ini. Nih.

Flo memutar-mutar tangannya, hingga pipi anak lelaki itu bergerak-gerak ke atas dan ke bawah. Ke kanan dan ke kiri. Ini namanya massage. Pijat. Totok wajah, biar tambah keren, seksi, dan fantastis. Flo sudah berbaik hati memberikan perawatan spesial untuk si bocah, bukan? Pasien pertama, khusus untuk si kutu buku--dari penampilannya.

Lalala... Pret! Kok tidak mau bangun juga sih? Anak gadis yang ingin menjadi kepala preman ini semakin kesal. Harusnya caranya tadi berhasil. Air liurnya kan bisa membuat orang yang bangun menjadi pingsan. Lah, yang pingsan seharusnya bisa bangun dong. Ia menggertakkan giginya. Kalau sampai hitungan ke sepuluh anak ini tidak mau sadarkan diri, maaf saja, boy, kau akan bangun dan mendapati dirimu menjadi jasad renik. Cuih.

Satu... dua.... lima... tujuh.. sepu--

"A-apa yang kau lakukan padaku?"

Wow. Panjang umurnya. Panjang umurnya. panjang umurnya serta mulia. Serta mulia. Serta mulia..

Flo menggerakkan kepalanya ke samping mendekatkan wajahnya ke arah anak laki-laki yang baru bangun itu. Wakakakak, ternyata lumayan ganteng juga ya. Ganteng kalau dilihat dari lubang sedotan minuman. Kedua telapak tangannya telah terlepas dari pipi si anak laki-laki ketika anak itu mencoba bangkit dari ranjang kuburannya. Bagus deh. Jadi kalau tidak mati, kau akan jadi korban Flo hari ini.Hitung-hitung sebagai bayaran dari pijatan tadi.

Flo menggerakkan satu kakinya melangkahi tubuh bocah tadi. Kedua tangannya diletakkan di atas tangan anak itu, menahannya untuk tidak berontak. Harusnya si anak laki-laki jatuh terbaring dong. Karena kini posisi Flo seperti hendak merangkak di atas tubuh anak itu. Tenang, Flo tidak merangkak kok. Tidak akan menjatuhkan martabat anak itu. Hanya saja, swasembada air liurnya sedang dalam tahap paling prima.

"TUTUP MATAMU, BEGO! KAU TIDAK AKAN MAU MELIHAT INI!"

Flo tertawa keras, seperti tokoh antagonis di acara telenovela televisi muggle. Sekarang, biarkan Flo menunjukkan aksinya. Ia mengeluarkan ludahnya, membiarkan enzim ptialin itu memanjang perlahan seperti tali. Jika sudah kena wajah anak itu, maka target kejahilannya telah terpenuhi. Tapi bagaimana kelanjutannya, siapa yang tahu, huh?

==================================================



Demi jenggot Merlin! Reid tidak dapat melihat siapa orang yang ada di dekatnya. Radius bayangannya semakin mendekat. Membuat detak jantung Reid yang berdegup cepat sejak bermimpi tadi semakin kencang lagi. Adrenalinnya sungguh terpacu. Seperti sedang mengikuti perlombaan lari maraton yang mengakibatkan butir-butir peluh menitik di seputaran pelipisnya.

Dan ia tidak sedang berlari. Ia diam, mengangkat setengah badannya ke atas, dengan kaki sebagai titik tetapnya. Tubuhnya kini bak kurva logaritma di mana ln satu sama dengan nol.

Reid terjebak di dalam kebingungan. Gugup. Namun bocah Rendall itu telah terbiasa untuk memasang wajah tenang, meskipun kini satu butir keringat telah menitik, turun melewati gestur wajahnya, terhenti sebentar di bawah dagu dan akhirnya menetes. Jatuh. Dan ia menyadari sesuatu, bahwa tindakan sembarangan dapat membahayakan. Ia Reid. Tidak menerima ketidakmampuan mengorganisir pikirannya agar lebih jernih dalam menyelesaikan situasi seperti ini. Ya. Itu teorinya.Tapi prakteknya? Tidak semudah yang terlihat di permukaan.

Samar-samar Reid merasakan orang itu melakukan gerakan yang mencurigakan. Sesuatu menyenggol kakinya. Disusul tangannya yang tertahan. Gah, sial! Orang itu memblokir gerakannya. Kedua tangannya tertekan. Reid mengerang geram. Kali ini erangan yang sesungguhnya. "Bloody hell! What are you doing, huh?"

"TUTUP MATAMU, BEGO! KAU TIDAK AKAN MAU MELIHAT INI!"

Suara anak perempuan. Cih, sial. Tanpa kacamata Reid sungguh tak berdaya. Jika begini, ia benar-benar tampak seperti tuna netra yang teraniaya oleh anak nakal. Ck. Emosi Reid naik. Labil. Kondisinya amat memprihatinkan. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi, tidak mampu menghindar dari serangan mencurigakan tadi, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan seorang anak perempuan. Seorang anak perempuan yang menjawab pertanyaan dengan satu bentakan.

Perempuan.

"Aarrggh!! Get off you b!tch!"

Reid menekuk lututnya. Berusaha mencari celah dengan mencoba menendang anak perempuan tadi. Kau tahu, lehernya sungguh geli terkena ujung-ujung rambut dari anak itu. Mengerikan.

==================================================



Nang ning nong...

Hayo... Lagi sedikit saja ujungnya (ptialin-red) akan mencapai wajah si anak laki-laki. Flo benar-benar memfokuskan diri untuk mengganggu si anak laki-laki. Kalau tidak, mengapa dia sampai bertahan setelah diteriaki tadi, hm? Flo tidak suka diteriaki, tahu. Apalagi jika dikata-katai. Noh tadi si bocah itu menyebutnya apa? B ! t c h? Apa itu? Serangga orangnya eskimo? Wakakak. Rileks saja, sayang. Besok kamu akan kusulap jadi pangeran cinta.

Ngawur.

Flo memang jadi lebih gila akhir-akhir ini. Salahkan neneknya yang tanpa sepengetahuan dan kesadaran mengajak Flo ke Rusia. Ya, neneknya membuat Flo pingsan terlebih dahulu, tentu saja. Supaya tidak ada korban penggigitan dari anak gadis berantakan nan kasar ini. Flo di-obliviate, dihapus ingatannya tentang sosok David Cadence, ayahnya sendiri. Tentu saja keseimbangan pikirannya menjadi kacau. Flo hidup dengan ayahnya semenjak kecil, meski ia lebih seperti anak terlantar. Tidak ada pengawasan, tidak ada cinta, dan tidak ada rumah. Rasakan saja bagaimana perasaan Flo yang begitu terluka saat ia pulang ke London. Setelah satu tahun meninggalkan rumahnya untuk bersekolah di Hogwarts, ia disuguhi kenyataan bahwa rumah itu telah menjadi milik orang lain.

Di mana ayahnya?

Tidak ada yang mengetahuinya. Tidak ada kabar.

Ia shock. Sedih. Marah. Dan lebih dari itu semua saat ini. Saat ia tidak bisa mengingat sesuatu yang penting. Flo butuh pelampiasan. Anak laki-laki ini, contohnya.

Tapi tiba-tiba...

JDUGG!!

Flo merasakan ada sesuatu yang menghantam punggungnya. Aaah, sakit. Brengsek. Flo jadi oleng ke depan, melepas tekanan tangannya pada si anak laki-laki demi memegangi punggungnya yang berdenyut-denyut. Sial, anak ini tidak tanggung-tanggung menendang Flo. Tubuh Flo terhuyung lagi ke samping. Liurnya yang panjang ikut bergoyang, dan akhirnya mengenai dirinya sendiri dari bawah bibir sampai ke bawah leher. Euh... Senjata makan tuan.

Flo kini meringkuk, memunggungi anak itu. Sakit punggungnya minta ampun. Awas saja kalau nanti dia tidak bisa berdiri tegak, dia akan menggigit kuping si anak laki-laki itu! "MONYET! SAKIT TAHU!" serunya, marah-marah.

==================================================



Perempuan.

Gah, memikirkan bagaimana rupa anak yang menganiayanya saja membuat perutnya serasa bergejolak. Reid tidak suka cara seperti kasar seperti ini. Apalagi diperbuat oleh seorang perempuan. Aneh. Ia harus bebas, dengan cara apapun. Laki-laki harus lebih kuat dari wanita. Jika dahulu ia bisa mengatakan bahwa menyakiti perempuan tidaklah etis dilakukan oleh anak laki-laki yang notabene harus menjaga perempuan, maka kali ini pernyataan itu harus diingkari. Kontradiksi. Ada sedikit galat yang harus dibenahi tatkala menghadapi situasi semacam ini.

Jika perempuan itu liar seperti binatang yang lolos dari kebun binatang, maka boleh disakiti. Dalam catatan, disakiti demi menuntunnya kembali ke habitat.

Butuh pembuktian? Nanti saja. Reid benar-benar sedang dalam masa kritis. Ia memberontak, menekuk lutut demi menendang anak yang berada di atasnya. Sial. Demi janggut Merlin, serangannya harus kena. Supaya dalam tempo sesingkat-singkatnya ia bisa mengenakan kacamatanya, kunci dari akses penglihatan yang kabur selama teraniaya. Lalu, langkah selanjutnya, akan terpikirkan setelah usahanya berhasil. Harus berhasil. Reid mengerang. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, sementara tangannya masih mecoba melawan dari pembekukan itu.

JDUGG!!

Kena?

"MONYET! SAKIT TAHU!"

Reid merasakan perbedaan yang mendasar. Ujung-ujung rambut anak itu mengenai wajahnya, kemudian tangannya menjadi ringan. Tak ada beban lagi setelahnya. Reid buru-buru bangkit, mengambil kesempatan itu untuk menggunakan kacamatanya. Ah. Dunia tampak lebih ramah di depannya. Garis-garis pepohonan terlihat jelas. Awan yang berarak terlihat lebih cantik. Lewati dulu sesi kebahagiaan itu. Ia masih punya acara lain untuk dilakukan. Reid lantas berbalik, inginnya memperhatikan wajah anak gadis yang mempraktekkan tindakan aneh kepadanya tadi, tapi gadis itu malah memunggunginya. Wajahnya tak terlihat. Reid berdiri, tapi ia masih tak bisa menyaksikan ekspresi gadis itu. Rambutnya yang berantakan menutupi mukanya.

Alis Reid masih tertekuk. Napasnya ngos-ngosan. Kini bocah berkacamata itu menarik bahu si anak gadis. Membalikkannya agar jatuh terlentang menghadapnya. Reid tidak bermaksud kasar. Seperti yang disudah dipaparkan barusan, ia hanya mau menuntun anak itu kembali ke habitatnya. Dalam hitungan detik, badan sang target pun terbalik. Jatuh dengan suara berdebam, dan Reid yakin dia pasti akan mengeluarkan suara bentakan seperti macan gila. Tapi Reid tak peduli. Reid melancarkan gerakan untuk memblokir serangan balik dari si anak gadis. Sama seperti yang dilakukan gadis itu, tapi tidak pada bagian yang tidak bisa ia lihat (adegan liur-liuran).

Reid menyeringai. "Sekarang giliranku,"katanya dengan bangga. "Katakan, apa yang telah kau lakukan tadi padaku."

==================================================



Aduh...

Flo mengusap-usap punggungnya yang kesakitan. Badannya nyaris membentuk sudut empat puluh lima derajat dengan posisi bokong yang melejit di belakang. Bocah brengsek. Sekalian Flo kentuti biar tahu rasa. Tapi, buru-buru mengeluarkan gas berbau amoniak, Flo masing terfokus pada punggungnya. Pasti tulangnya retak, batinnya kesal. Sial, tunggu saja pembalasan dari Flo wahai kutu buku loncat!

Flo melirik, ketika satu bayangan menyelimuti dia. Oh, si anak tadi kini berdiri. Memandangnya dengan tajam, seakan-akan sudah tiga hari tidak buang air besar. Kasihan deh lo. "APA LIHAT-LIHAT?!" bentak Flo. Sangar. Ini nih jiwa preman sejati yang terkubur dalam diri Flo. Kalau mau, anak laki-laki ini akan merasakan gigitan sakti dari gigi Flo yang indah dan berseri. Cuih. Pret.

Ngomong-ngomong, anak itu sekarang berkacamata ya. Culun banget. Wakakakak. Tipikal anak yang harus sering di-bully nih. Flo tertawa keras-keras, seperti penjahat yang tidak mau jera setelah berhasil ditangkap polisi. Namun tawa itu harus terhenti karena ada tangan yang menariknya untuk terjatuh dan menatap hamparan langit. Bruk. Flo jatuh ke samping. Tubuhnya terlentang. Rambut-rambutnya lebih berantakan lagi, di tanah seperti medusa, dengan tambahan sulur-sulur tak beraturan di depan wajahnya. "MONYET! TINDAKAN KRIMINAL INI NAMANYA!"

Eh, anak itu malah menyeringai, setelah membekuk tubuh Flo. Brengsek, jadi terbalik dengan yang tadi.

"Sekarang giliranku."

"Katakan, apa yang telah kau lakukan tadi padaku."

Yang Flo lakukan?

Lulur air liur?

Rencana pembunuhan jika anak itu tidak bangun?

Menyergap tangan?

Dan tarian tali air liur?

Oh, kau tidak akan mau mengetahuinya, Nak. Maka Flo membalas seringaian dengan seruan. Biar tuli sekalian si anak culun ini.

"NOTHING!"

==================================================

You Might Also Like

0 comments