Kasus #1 - Selingkuh
09.09Jika dipikir-pikir, karakteristik Ubi dan RR memang sangat mirip. Karena pengaruh dari PM-nya yang notabene cengengesan, senyum-senyum tak jelas. Hanya saja, ada perbedaan di antara keduanya, selain Ubi pernah menjabat sebagai prefek, dan RR (dengan beruntungnya) sebagai KM. Misalnya begini. Ketika dua orang lelaki dewasa (saya selalu blushing jika menggunakan kata 'pria') itu dihadapkan pada beberapa kasus.
Kasus # 1 - Selingkuh.
Pasangan mereka (Allysia - Ubi, Lucia - RR) kepergok tengah duduk berduaan di sebuah bangku taman, kepalanya bersender pada lelaki lain. Dan lelaki itu memeluk belakang punggung si pasangan, sembari mengelus-elus jemari sang perempuan. Na ah, apakah yang akan dilakukan oleh pasangan asli mereka? (Misal umur = 17 tahun)
Ubiquitous Lukewarm PoV
Mungkin awan sedang mendung sekarang. Meski latar sudah mencapai musim semi, bunga-bunga mekar telah bertaburan di segala penjuru, dan kesan 'cerah' yang biasanya membuatnya bersemangat untuk hidup. Ubiquitous Lukewarm, namanya, bergerak dengan radar alien transparan di atas kepalanya (yang kali ini berdengung-dengung menyayat hati), menyisir tepi jalan dengan tangan yang menggenggam sebuat buket bunga mawar putih. Inisiatif untuk memberikan kekasihnya bunga. Hari ini hari sabtu, dan yang paling enak dari hari sabtu adalah ketika kau memiliki seorang teman kencan.
Dan dia punya. Namanya Allysia Rifle. Seorang gadis yang cantik dan pemberani (dari asrama Gryffindor), dengan rambut berwarna merah halus dan iris warna biru (terkadang berubah menjadi abu) yang mampu menenggelamkannya ke dasar euforia. Terutama bila gadis itu tersenyum. Masih teringat dengan jelas di benak, ketika gadis itu berulang tahun. Ia mengundangnya ke halaman yang dipenuhi oleh tumpukan salju dan angin dingin yang membarat. Lalu sang pecinta alien ini mencoba mentransfigurasikan partikel bongkahan salju, menjadi kupu-kupu yang beterbangan. Dan gadis itu tersenyum. Hanya kepadanya.
...
Dan gadis itu tersenyum. Tidak hanya kepadanya.
Buket bunga itu melesat jatuh ke permukaan beraspal. Entahlah, mungkin tangan yang menggenggamnya sedang tergelincir, atau dia memang sengaja menjatuhkannya. Ketika itu, Ubiquitous, hanya berdiri tegak. Mematung tak bersuara. Senyumnya yang mengembang kini musnah seketika. Berganti dengan aura tak mengenakkan serta suara sirine yang meraung-raung dari antena tak terlihatnya. Kau tahu? Dilihatnya sosok yang ingin ditemuinya itu sedang bermesraan dengan orang lain. Bukan Kishlef. Tidak, wajah laki-laki itu tidak dikenalnya sama sekali. Juga Al. Dia ternyata sama sekali tidak mengenal kekasihnya.
Tsk.
Sial.
Luck menghela napasnya. Mengangkat dagunya ke atas, karena muka datarnya tidak pernah cocok dengan kepribadiannya. Memandang langit bisu, berwarna biru keperakan yang berarak tanpa berkomentar banyak. Dan dia tahu, langit sedang tidak mendung. Maka ia menggerakkan sepasang tungkainya, berjalan menuju arah yang berlawanan. Meninggalkan bekas buket bunga yang telah terjejak oleh langkahnya. Namun, di depan persimpangan, ia ternyata tergoda untuk berbalik. Meraih tongkat holy sepanjang dua puluh delapan sentimeter dari saku celananya, lalu mengacungkannya tepat ke arah si laki-laki yang mengelus-elus tangan kekasihnya.
"Petrificus totalus."
Mungkin awan sedang mendung sekarang. Meski latar sudah mencapai musim semi, bunga-bunga mekar telah bertaburan di segala penjuru, dan kesan 'cerah' yang biasanya membuatnya bersemangat untuk hidup. Ubiquitous Lukewarm, namanya, bergerak dengan radar alien transparan di atas kepalanya (yang kali ini berdengung-dengung menyayat hati), menyisir tepi jalan dengan tangan yang menggenggam sebuat buket bunga mawar putih. Inisiatif untuk memberikan kekasihnya bunga. Hari ini hari sabtu, dan yang paling enak dari hari sabtu adalah ketika kau memiliki seorang teman kencan.
Dan dia punya. Namanya Allysia Rifle. Seorang gadis yang cantik dan pemberani (dari asrama Gryffindor), dengan rambut berwarna merah halus dan iris warna biru (terkadang berubah menjadi abu) yang mampu menenggelamkannya ke dasar euforia. Terutama bila gadis itu tersenyum. Masih teringat dengan jelas di benak, ketika gadis itu berulang tahun. Ia mengundangnya ke halaman yang dipenuhi oleh tumpukan salju dan angin dingin yang membarat. Lalu sang pecinta alien ini mencoba mentransfigurasikan partikel bongkahan salju, menjadi kupu-kupu yang beterbangan. Dan gadis itu tersenyum. Hanya kepadanya.
...
Dan gadis itu tersenyum. Tidak hanya kepadanya.
Buket bunga itu melesat jatuh ke permukaan beraspal. Entahlah, mungkin tangan yang menggenggamnya sedang tergelincir, atau dia memang sengaja menjatuhkannya. Ketika itu, Ubiquitous, hanya berdiri tegak. Mematung tak bersuara. Senyumnya yang mengembang kini musnah seketika. Berganti dengan aura tak mengenakkan serta suara sirine yang meraung-raung dari antena tak terlihatnya. Kau tahu? Dilihatnya sosok yang ingin ditemuinya itu sedang bermesraan dengan orang lain. Bukan Kishlef. Tidak, wajah laki-laki itu tidak dikenalnya sama sekali. Juga Al. Dia ternyata sama sekali tidak mengenal kekasihnya.
Tsk.
Sial.
Luck menghela napasnya. Mengangkat dagunya ke atas, karena muka datarnya tidak pernah cocok dengan kepribadiannya. Memandang langit bisu, berwarna biru keperakan yang berarak tanpa berkomentar banyak. Dan dia tahu, langit sedang tidak mendung. Maka ia menggerakkan sepasang tungkainya, berjalan menuju arah yang berlawanan. Meninggalkan bekas buket bunga yang telah terjejak oleh langkahnya. Namun, di depan persimpangan, ia ternyata tergoda untuk berbalik. Meraih tongkat holy sepanjang dua puluh delapan sentimeter dari saku celananya, lalu mengacungkannya tepat ke arah si laki-laki yang mengelus-elus tangan kekasihnya.
"Petrificus totalus."
Reid Rendall PoV
Gadisnya bernama Lucia Whitton. Tapi dia selalu bersikeras memanggilnya dengan sebutan 'Phitton'. Bukan panggilan yang manis atau menyiratkan perasaan sayang, memang. Tapi pemuda itu menyukainya. Menyukai bagaimana muka sumringah pacarnya ketika dirinya tak terima disebut demikian. Dan Phitton-nya, pernah, beberapa kali bertanya mengenai asal-muasal Reid menyamakannya dengan sejenis ular. Walau ujung-ujungnya pemuda asrama Ravenclaw itu hanya akan berlalu sambil tertawa. Mengatakan, "rahasia" ketika satu tangannya terkibas-kibas di udara--sementara yang satunya lagi dimasukkannya ke dalam kantong celana.
Kantong celana.
Sebuah tempat yang praktis untuk menyembunyikan sesuatu. Foto gadisnya, misalnya. Atau microphone super tiny laser (kenangan bersama Taff dan Beauty) yang ternyata masih dibawanya di dalam saku itu. Sudah tiga tahun berlalu, padahal. Dua tahun terhitung sejak penembakan di pantai Blackpool. Dan tiga puluh delapan menit berselang sejak ia mulai mengambil rute joggingnya di senja hari. Ketika burung-burung pulang ke sarang. Ketika langit dengan warna jingga itu membuatnya terhanyut dalam kerinduan akan Phitton-nya. maka sengajalah ia melalui jalur yang berbeda. Sedikit masuk ke pelosok, agar bisa melewati rumah sang kekasih.
Tahu-tahu, kakinya sudah menemaninya sampai ke depan pintu kediaman keluarga Whitton. Pemuda itu berhenti di sana, mengetuk pintunya tiga kali. Tapi rumah itu sedang kosong. Lengang. Tak ada suara, meskipun pemuda itu sudah memusatkan konsentrasinya. Lampu-lampu yang biasanya sudah dihidupkan masih saja padam. Juga tirai-tirai yang biasanya terbuka--memang sudah menutup sedari tadi. Reid menggosok-gosok kepalanya, mengusap keringatnya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Aah. Mungkin dia sedang sial.
Atau, jangan-jangan Phitton-nya ada di dalam kamar, sedang tertidur dengan polosnya?
Heah. Dasar pemalas.
Berlari-lari kecil, Reid Rendall kembali melaju. Sepatunya mulai menginjak-injak tanah dalam tempo loncatan tertentu. Memacu adrenalinnya, dia menuju ke halaman belakang milik keluarga tersebut. Rasa-rasanya, kamar kekasihnya berjendela di sisi belakang. Mungkin ia harus sedikit menjahilinya. Melemparkan batu, atau menakut-nakuti, segala jenis kejahilan bermunculan di kepala bersurai cokelat ini. Dan lalu, ia terpukau dengan pemandangan di halaman belakang. Ada sebuah taman kecil di sana, lengkap dengan bangku kayu dan meja bundar dari batu di sudut yang berbeda. Pepohonan, bermacam tanaman, dan juga air mancur yang mengalirkan air di tengah-tengah sebuah kolam kecil.
Ironisnya, di sana, tepat di atas bangku kayu yang membelakangi dirinya, dua orang sedjoli tengah duduk sambil berpelukan. Yang perempuan menatakkan kepalanya pada bahu kaum adam. Yang perempuan, berambut pirang kecokelatan. Sama seperti kekasihnya, yang ia sebut-sebut berambut kemoceng. Ah, Reid memang suka meledek Lucia. Sangat suka. Tapi yang ini, ia tidak suka. Perasaan bergemuruh di dada ini, ia sangat tidak suka.
"Phitton?"
Dia memanggil dengan keraguan mendalam, berdoa agar kemungkinan buruk yang sempat terlintas di pikirannya tidak jadi kenyataan. Sontak alis mata Reid menekuk. Sontak pula kakinya melangkah mendekat. Menuju ke arah mereka. Tangannya terkepal erat. Ludahnya tertenggak. Rahangnya mengeras.
Gadis itu benar-benar Lucia Whitton.
"Get away from her, you--MORON!"
Satu tinjunya melesat ringan. Menumbuk pipi si laki-laki dengan tekanan tinggi--hingga beberapa bulir darah tampak mengucur keluar dari wajah orang itu. Disusul dengan hantaman kedua, juga ketiga, dan seterusnya. Hingga badan orang itu tersungkur ke tanah, tak sedikitpun ekspresi tertuang di mukanya yang biasa terlihat tenang itu. Reid masih geram. Masih marah. Merah bercampur hitam, hatinya menggelap. Terlalu emosi, hingga kaki dan ruas tangannya terus saja menjejali laki-laki biadab yang begitu kurang ajar menyentuh gadis miliknya.
Miliknya.
"Sudah, Reid. Sudah," lengannya tertarik ke belakang. Kepalanya tertoleh sesaat, dan mendapati gadisnya menyorotnya dengan tatapan tajam. Ingin melerai? Tsk.
"Pilih, Lucia. Pilih!" Dia tertawa setelah mengakhiri kalimatnya. Namun kekehan itu sama sekali tak bernada bahagia. Penuh ego dan amarah yang meluap-luap ke permukaan. "Pilih sekarang juga. Aku, atau DIA?"
Dan lalu, ditendangnya orang ketiga itu untuk yang terakhir kalinya. Ada satu hal yang amat mengganjal pikirannya. Bersama Reid, Phittonnya jarang sekali mengulaskan senyum. Sesekali, dan itu amat langka. Mendadak, hatinya dirasa kelu. Tersayat-sayat. Atau mungkin, remuk dililit ular Phitton.
Tsk. Dia sudah tahu jawabannya.
2 comments
http://nadya-hime.blogspot.com/2011/04/fight-and-fear.html
BalasHapus*ketawa setan*
Phitton memang sangat manis :">
BalasHapus